Panas
terik menyelimuti sekolah Pemuda,terlihat seorang gadis cantik bersandar di
bawah pohon. Dia masih saja berkutat dengan Hanphone miliknya dan beberapa
permen karet yang ia telah ia kulum.
“tak..tokk..tak..”
suara permen karet yang ia kunyah membuat teman-teman sekitar memperhatikanya.
Apalagi dengan model rambut yang terurai panjang dan berwarna coklat itu.
Terlihat sekali seakan-akan dia gadis gankster yang di takuti di sekolah ini.
Padahal ia hanya gadis cantik biasa yang mungkin terlihat bisa kalau rambutnya
tak berwarna seperti itu.
“bisa
kau hentikan kunyahan permen karetmu itu...?” tiba-tiba seorang laki-laki tengah
berbicara di bawah kakinya.
“memang
apa masalhnya denganmu” masih dengan posisi yang sama.
“kamu
mengganggu tidur siangku..?”katanya lagi sambil membuka buku yang sedari tadi
menutupi wajahnya.
Laki-laki
itu berdiri tepat di depan gadis cantik itu. Ia mulai memperhatikan gadis itu
dari atas rambut hingga ujung kakinya. Entah apa yang ada di pikirannya, dia tersenyum
simpul. Gadis itu tetap tidak bergeming dari tempat ia bersandar dia malah
asyik menaruh Airphone di telinganya. Laki-laki itu mulai jengkel gertakan
kecilnya tadi tak membuat gadis itu pergi. Dengan paksa ia menarik airphone
dari telinga gadis itu.
“Aww...
Heii sakit..!!” teriaknya
“harusnya
kau dengar apa yang aku katakan tadi...menyingkir dari tempat ini!!” kata
laki-laki itu dengan keras. Membuat semua orang di penjuru taman sekolah tempat
mereka berada ini menoleh.
“apa
yang terjadi Nindi membuat ulah lagi ya..!” seorang gadis lain tiba-tiba mulai
berbicara
“iya
dia memang pembuat Onar..??!!” kali ini makin banyak lagi ocehan dan celometan
teman-teman sekolahnya.
Harusnya
dia bisa saja tak perduli,tapi ocehan-ocehan tersebut membuat telinganya
bising. Sesegera mungkin ia menarik airphone dari tangan laki-laki itu dan
pergi. Dia masih tidak hapis pikir apa dia begitu hinanya sampai banyak orang
berkata seperti itu. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya ke koridor depan
kelas. Ia melihat masih banyak anak bergerombol disana. Mungkin karena sikap
cuwek dan kasarnya itu membuat ia tak perduli dengan sekitar.
“permisi
aku mau duduk..!!” ucapnya ketika ia telah sampai di tempat yang ia yakini
betul tidak ada orang yang mengganggu.
Terlihat
sekali anak-anak yang bergerombol itu menyingkir. Mereka seperti takut akan
terjadi apa-apa kepada mereka jika mereka masih tetep berdiri di tempat itu.
Setelah di rasa teman-temannya pergi barulah ia meneruskan aktivitasnya. Gadis
itu kembali mendengarkan Airphone dan mengotak atik Handphone miliknya. mungkin
jika orang lain tidak melihatnya dengan seksama, dia terlihat hanya
mendengarkan music. Namun sebenarnya di melihat foto dari layar Handpone
miliknya.
“Ayah..Ibu...!!”
ucapnya lirih.
‘* *
* *
Di
ruang guru terlihat seorang anak berambut coklat sedang dudukmenatap tumpukan
buku di depannya.
“Nindi
harusnya kamu melihat hasil nilai Ujianmu beberapa semester ini..!!?”seorang
laki-laki berframe biru tengah memarahinya.
“nilai
di bawah 5,0 sering tidak masuk jam pelajaran dan sekarang kamu mulai mengecat
rambutmu...!! mau jadi apa kamu nanti..?” laki-laki itu mulai membentaknya.
“ini
bukan urusan kamu Marco? Kamu tidak berhak melarangku..”tatap gadis itu sinis
kepada laki-laki yang ternyata wali kelasnya.
Mungkin karna memang umur
laki-laki itu masih terlalu muda untuk seorang guru. Gadis itu tak pernah
memanggilnya dengan sebutan Bapak selayaknya guru-guru yang lain.
“dengar
nindi saya tidak mau murid saya tidak lulus Ujian Nasional,hanya karena nilai
pelajarannya yang buruk. Saya akan membimbing kamu liburan tengah Semester
nanti “ tatap guru muda itu tajam, dan tak membiarkan gadis ini berkutik.
Ia
tau laki-laki ini mempunyai mata yang sama, mata yang hangat dan bergelora.
Entah mungkin ini hanya ketakutan sesaat gadis ini, atau dia mengingat mata itu. Mata yang selalu ia rindukan selama
ini.
Tak
butuh waktu lama gadis ini berkutat dengan
buku dan alat tulisnya. Ia seperti mengingat sesuatu yang ia lupakan. Namun
semakin ia mengingatnya semakin ia tak tau jawabannya. Bukan persoalan yang
mudah gadis yang memiliki nilai 5,0 itu mengulang pelajarannya.
“mengapa
kamu begitu bodohnya sampai tidak bisa mengingat rumus yang baru 15 menit yang lalu
aku ajarkan..?” guru muda itu mulai menatap lembut gadis ini.
‘* *
* *
Hujan
telah berhenti setelah sekian jam memuntahkan air yang mungkin saja tak kunjung
reda. Kilat petir seakan sambung menyambung tak henti. Gadis itu mulai menatap
lantai basah halaman depan gerbang sekolahnya. Rasa enggan masih menyelimuti
benaknya mengingat apa yang telah ia alami selama liburan tengah Semester.
Mungkin
saja kalau ia tak mengingat akan tugas
yang harus ia selesaikan,dia tidak akan datang ke sekolah ini. Perbaikan nilai
dan ujian tambahan, membuat gadis ini tak tenang. Gadis ini tak mau berlama-lama
tinggal di sekolah, ia ingin segera lulus. Dengan desahan nafas ia menatap
kelangit berharap semua kekacauan di sini berakhir.
Di
atas gedung Sekolah bewarna putih itu terlihat
warna-warni yang indah muncul menyibakan mendunghitam. Menghantar kegelisahan
gadis ini menjadi semangat baru. Walaupun ia tak tau apakah ia sanggup
melewatinya dan bertemu guru muda itu lagi, setelah kejadian yang mereka berdua
alami.
“Shigure
Niji...” tampak seorang laki-laki bermata hitam berbicara disampingnya,
memandang jauh ke atas langit.
Gadis
itu berpikir bagai mana laki-laki ini tau namanya, seketika ia menoleh dan
kemudian memandang langit didepannya. Tampak jelas warna-warni itu kian membuat
langit cerah.
“mungin
ia sedang membicarakan wana itu?” bisik hati gadis itu.
“
Bruk..!!. Hei harusnya kamu tidak berdiri saja disini?apakah kamu tidak
mendengar Bell berbunyi nyaring berkali-kali..?” ucap laki-laki itu sambil
memukul bahugadis itu lembut.
“tidak
ada urusannya denganmu! Aku mau pergi kemana” ucapnya dengan nada keras.
“
Hmm....!!” laki-laki itu hanya tersenyum simpul, sambil memperhatikan gadis
berambut coklat yang berjalan di depanya.
Kilau
rambut coklat itu membuat warna yang berbeda, keemasan dan cantik. Membuat semua
laki-laki yang memperhatikanya akan suka dan kagum. Wajah cantik oriental,
kulit putih dan bibir yang merah seakan mata setiap laki-laki tidak akan lepas
darinya. Tapi mungkin melihat tingkah urakan dan sifat kasarnya semua predikat
cantik itu akan berubah. Mereka akan takut atau bahkan lari, apa lagi gadis ini
pernah menjuarai Lomba Karate dengan sabuk Hitam. Sungguh hal yang di luar
dugaan melihat fisik yang manis dan cantik.
‘* *
* *
Di
perpustakaan ini tidak banyak murid yang
datang, hanya beberapa anak saja yang akan menghadapi ujian .Satu langkah kaki
saja sudah membuat beberapa pasang mata menoleh.Apalagi dengan rambut panjang
coklat yang mencolok itu. Gadis ini seakan masuk di dunia asing yang sama
sekali tidak pernah ia temui. Buku-buku
yang berjajar rapi, meja kursi yang
bersekat , serta beberapa tanaman pot yang menghiasi setiap sudut jendela.
Setiap ia berjalan ada beberapa
pasang mata memperhatikannya. Dengan tatapan kaget, aneh dan sinis. Mereka
seakan melihat keajaiban atau mungkin hal aneh
yang membuat gadis ini menginjakkan kaki di perpustakaan.
“ya
dia adalah gadis pembuat ulah yang sering sekali absen ke sekolah” balas
temannya.
“tapi
terdengar berita kalau ia hamil diluar nikah, pantas saja ia jarang mengikuti
pelajaran?” salahsatu teman satu kelasnya berbicara
“apa
lagi banyak gosip yang bilang ia perebut suami orang,,!”kali ini sebuah kata-
kata tepat menusu hatinya.
Walau
dari awal ia mulai tak perduli, kini hanya sebuah ucapan saja bisa membuat
gadis ini tak bergerak kaku mematung. Tersentak dan seketika itu juga ia mulai
menoleh mencari asal suara tersebut. Setelah ia menemukan siapa yang
membicaraannya, ia mulai berjalan ke arah anak itu. Ada rasa takut ,ngeri
bercampur gemetar mereka yang berbicara mematung terdiam. Mereka seperti
membangunkan Singa yang lapar. Dengan mata yang marah ia membentak gadis yang
membicarakannya tadi.
“
dengarr..!! aku tak pernah punya masalah
dengan kalian, jadi Tutup Mulut Klian,,,,!!!” katanya dengan nada marah.
Kini
ia kembali terduduk manis di bawah jendela ruang perpustakaan. Dengan buku-buku
tugas yang ada di depannya. Gadis itu mencoba berkosentrasi menyelesaikan soal
latihan. Ada rasa enggan untuk menarik salah satu buku, di bolak baliknya
kertas soal yang tertera disana.
“Bahasa
Ingris...hmm.. apa yang harus aku tulis ya..?” gumamnya.
Kali
ini ia tak memperhatikan sekitarnya lagi ketika seorang laki-laki tengah duduk
di hadapanya. Memperhatikan tingkah lucunya, membolak-balik kertas,
menggaruk-garuk kepala jika ia lupa. Atau bahkan bengong dan menggigit ujung
penanya.
“himm..
gadis yang aneh..?”ucapnya dalam hati
Ia
tak tau ketika gadis itu mulai tersentak dan menemukan sosok yang sering sekali
ia temui.
“Kamu..??
mengapa kamu disini ?mengapa kamu di depanku..?apa yang kamu lihat..?” tanya
gadis itu kaget.laki-laki yang ia bermata hitam itu terdiam.
“memangnya
kenapa bukankah ini tempat umum?dan tidak jadi soalaku mau duduk di depan
siapa..?” kata laki-laki itu memperlihatkan senyum termanisnya.
Huff..seketika
detak jantung gadis ini berpacu dengan rona merah wajahnya. Sesegera mungkin ia
memalingkan wajah ia tau ada hal yang tak biasa ia rasakan.
“Haha....hahah....
dasar gadis yang aneh aku kira kamu hanya gadis pembuat ulah di sekolah ini”
kata laki-laki itu sambil memegang ujung penanya.
“aku
tidak mengenalmu ?lalu mengapa kamu bisa menilaiku seperti itu, sama seperti
mereka orang-orang picik yang suka menilai orang dengan gampang” kata gadis itu
dengan nada kesal.
Ada
rasa yang tidak laki-laki itu tau, ada hal yang tak sanggup gadis itu terima.
Bukan karena ejekan atau kata-kata kasar teman-teman di sekolahnya. Tetapi
karena hidupnya, hidupnya yang kini telah kacau.
“aku
bukan gadis yang aneh seperti kata mereka aku hanya gadis yang kacau, sama seperti hidupku” ungkapnya lagi.
Di
palingkan wajahnya menjauh dari laki-laki itu. Sekali lagi ia menerawang jauh
memandang jauh keluar. Setetes air mata jauh membasahi pipi putihnya, ada ke
galauan dan rasa kecewa disana. Teringat lagi peristiwa yang baru saja ia
alami.
“harusnya
aku tak pantas berada di sini”katanya lagi sambil pergi meninggalkan laki-laki
itu.
“tunggu..!!”
laki-laki itu menarik tangannya ada rasa lain yang berbeda di sana.
“semua
sudah berbeda tak seperti dulu,harusnya kau masih bisa menatap masa depanmu,dan
berikan yang terbaik untuk orang yang kamu cintai..” seketika binar mata hitam
laki-laki itu membuat gadis itu tak bisa bergerak. Aliran darahnya memacu dengan
cepat . Detak jantung yang tak beraturan, seakan ia tau apa yang ia rasakn.
Bahagia sedih bercampur, ternyata masih ada orang yang mengerti hatinya.
Keesokan
harinya tak terlihat lagi kilauan keemasaan dari rambut yang tergerai panjang.
Tak terlihat lagi letusan-letusan kecil permen karet yang dia kunyah. Dan tak
ada lagi suara orang –orang yang mencemoohnya. Hanya suara desiran air
hujan.Sekali lagi air hujan ini mempertemukan gadis itu kembali dengan pemilik
mata hitam yang indah.
Musim
Ujian telah berlalu ia mampu menyelesaikan tugas yang ia kerjakan. Ia mampu
tersenyum puas kini. Ada hal yang harus ia sampaikan kepada orang yang selama
ini telah membantunya dengan keras. Walaupun ada rasa takut untuk menemuinya,
takut jika rasa itu hadir lagi.
“Marco
aku sudah Lulus.. aku mendapatkan nilai yang memuaskan..”kata gadis itu.
“Wahh
..selamat ya,aku juga akan di pindahkan ke sekolah Negri tahun ini” sentuhan
tangan itu mmebuat gadis ini terdiam.“dan maaf untuk kejadian waktu itu” kata
guru ber frame biru itu dengan lembut.
“
sudah lupakan Kecupan itu,semua yang kita rasakan hanya rasa manis permen
karet..” dengan suara yang semakin kecil ada getaran di sana.
Permen karet
ini adalah penghilang rasa manis kecupan guru muda itu. Guru muda yang
diam-diam ia cintai. Guru muda yang seperti ayahnya penuh dengan perhatian dan
kasih sayang. Setelah mengucapkan
selamat tinggal ia pun berlari, tak di hiraukannya hujan membasahi tubuh nya.
“Sigure
Niji..!! harusnya kau tak berada di sana!!kemarilah aku ingin memberikan mu
sesuatu” teriak seorang laki-laki kepada gadis itu. Dia bukan Nindi tapi Niji .
“di
sini tidak ada pelangi mengapa masih saja kau sebut ini Niji.??” Gadis itu
berjalan medekatinya. Diraihnya sebuah kertas sketsa yang laki-laki itu buat
untuknya.
“Shigure
Niji ..Pelangi saat langit mulai cerah.. seperti kamu..semua akan indah Niji San”
ucapnya,terlihat senyum yang sangat manis yang hanya ia berikan kepadanya.
Shigure
Niji gadis Indo jepang yang mencoba meraih pelagi. Niji Gadis itu adalah Anugrah
teridah yang pernah dimiliki Ayah dan Ibunya walau ia telah tiada. -TAMAT-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar