Senin, 01 Juli 2013

Sketsa Pelangi



Panas terik menyelimuti sekolah Pemuda,terlihat seorang gadis cantik bersandar di bawah pohon. Dia masih saja berkutat dengan Hanphone miliknya dan beberapa permen karet yang ia telah ia kulum.
“tak..tokk..tak..” suara permen karet yang ia kunyah membuat teman-teman sekitar memperhatikanya. Apalagi dengan model rambut yang terurai panjang dan berwarna coklat itu. Terlihat sekali seakan-akan dia gadis gankster yang di takuti di sekolah ini. Padahal ia hanya gadis cantik biasa yang mungkin terlihat bisa kalau rambutnya tak berwarna seperti itu.
“bisa kau hentikan kunyahan permen karetmu itu...?” tiba-tiba seorang laki-laki tengah berbicara di bawah kakinya.
“memang apa masalhnya denganmu” masih dengan posisi yang sama.
“kamu mengganggu tidur siangku..?”katanya lagi sambil membuka buku yang sedari tadi menutupi wajahnya.
Laki-laki itu berdiri tepat di depan gadis cantik itu. Ia mulai memperhatikan gadis itu dari atas rambut hingga ujung kakinya. Entah apa yang ada di pikirannya, dia tersenyum simpul. Gadis itu tetap tidak bergeming dari tempat ia bersandar dia malah asyik menaruh Airphone di telinganya. Laki-laki itu mulai jengkel gertakan kecilnya tadi tak membuat gadis itu pergi. Dengan paksa ia menarik airphone dari telinga gadis itu.
“Aww... Heii sakit..!!” teriaknya
“harusnya kau dengar apa yang aku katakan tadi...menyingkir dari tempat ini!!” kata laki-laki itu dengan keras. Membuat semua orang di penjuru taman sekolah tempat mereka berada ini menoleh.
“apa yang terjadi Nindi membuat ulah lagi ya..!” seorang gadis lain tiba-tiba mulai berbicara
“iya dia memang pembuat Onar..??!!” kali ini makin banyak lagi ocehan dan celometan teman-teman sekolahnya.
Harusnya dia bisa saja tak perduli,tapi ocehan-ocehan tersebut membuat telinganya bising. Sesegera mungkin ia menarik airphone dari tangan laki-laki itu dan pergi. Dia masih tidak hapis pikir apa dia begitu hinanya sampai banyak orang berkata seperti itu. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya ke koridor depan kelas. Ia melihat masih banyak anak bergerombol disana. Mungkin karena sikap cuwek dan kasarnya itu membuat ia tak perduli dengan sekitar.
“permisi aku mau duduk..!!” ucapnya ketika ia telah sampai di tempat yang ia yakini betul tidak ada orang yang mengganggu.
Terlihat sekali anak-anak yang bergerombol itu menyingkir. Mereka seperti takut akan terjadi apa-apa kepada mereka jika mereka masih tetep berdiri di tempat itu. Setelah di rasa teman-temannya pergi barulah ia meneruskan aktivitasnya. Gadis itu kembali mendengarkan Airphone dan mengotak atik Handphone miliknya. mungkin jika orang lain tidak melihatnya dengan seksama, dia terlihat hanya mendengarkan music. Namun sebenarnya di melihat foto dari layar Handpone miliknya.
“Ayah..Ibu...!!” ucapnya lirih.



‘*     *     *     *
Di ruang guru terlihat seorang anak berambut coklat sedang dudukmenatap tumpukan buku di depannya.
“Nindi harusnya kamu melihat hasil nilai Ujianmu beberapa semester ini..!!?”seorang laki-laki berframe biru tengah memarahinya.
“nilai di bawah 5,0 sering tidak masuk jam pelajaran dan sekarang kamu mulai mengecat rambutmu...!! mau jadi apa kamu nanti..?” laki-laki itu mulai membentaknya.
“ini bukan urusan kamu Marco? Kamu tidak berhak melarangku..”tatap gadis itu sinis kepada laki-laki yang ternyata wali kelasnya.
               Mungkin karna memang umur laki-laki itu masih terlalu muda untuk seorang guru. Gadis itu tak pernah memanggilnya dengan sebutan Bapak selayaknya guru-guru yang lain.
“dengar nindi saya tidak mau murid saya tidak lulus Ujian Nasional,hanya karena nilai pelajarannya yang buruk. Saya akan membimbing kamu liburan tengah Semester nanti “ tatap guru muda itu tajam, dan tak membiarkan gadis ini berkutik.
Ia tau laki-laki ini mempunyai mata yang sama, mata yang hangat dan bergelora. Entah mungkin ini hanya ketakutan sesaat gadis ini, atau dia mengingat  mata itu. Mata yang selalu ia rindukan selama ini.
Tak butuh waktu  lama gadis ini berkutat dengan buku dan alat tulisnya. Ia seperti mengingat sesuatu yang ia lupakan. Namun semakin ia mengingatnya semakin ia tak tau jawabannya. Bukan persoalan yang mudah gadis yang memiliki nilai 5,0 itu mengulang pelajarannya.
“mengapa kamu begitu bodohnya sampai tidak bisa mengingat rumus yang baru 15 menit yang lalu aku ajarkan..?” guru muda itu mulai menatap lembut gadis ini.
                                                                ‘*     *     *     *
Hujan telah berhenti setelah sekian jam memuntahkan air yang mungkin saja tak kunjung reda. Kilat petir seakan sambung menyambung tak henti. Gadis itu mulai menatap lantai basah halaman depan gerbang sekolahnya. Rasa enggan masih menyelimuti benaknya mengingat apa yang telah ia alami selama liburan tengah Semester.
Mungkin saja kalau ia tak mengingat  akan tugas yang harus ia selesaikan,dia tidak akan datang ke sekolah ini. Perbaikan nilai dan ujian tambahan, membuat gadis ini tak tenang. Gadis ini tak mau berlama-lama tinggal di sekolah, ia ingin segera lulus. Dengan desahan nafas ia menatap kelangit berharap semua kekacauan di sini berakhir.
Di  atas gedung  Sekolah bewarna putih itu terlihat warna-warni yang indah muncul menyibakan mendunghitam. Menghantar kegelisahan gadis ini menjadi semangat baru. Walaupun ia tak tau apakah ia sanggup melewatinya dan bertemu guru muda itu lagi, setelah kejadian yang mereka berdua alami.
“Shigure Niji...” tampak seorang laki-laki bermata hitam berbicara disampingnya, memandang jauh ke atas langit.
Gadis itu berpikir bagai mana laki-laki ini tau namanya, seketika ia menoleh dan kemudian memandang langit didepannya. Tampak jelas warna-warni itu kian membuat langit cerah.
“mungin ia sedang membicarakan wana itu?” bisik hati gadis itu.
“ Bruk..!!. Hei harusnya kamu tidak berdiri saja disini?apakah kamu tidak mendengar Bell berbunyi nyaring berkali-kali..?” ucap laki-laki itu sambil memukul bahugadis itu lembut.
“tidak ada urusannya denganmu! Aku mau pergi kemana” ucapnya dengan nada keras.
“ Hmm....!!” laki-laki itu hanya tersenyum simpul, sambil memperhatikan gadis berambut coklat yang berjalan di depanya.
Kilau rambut coklat itu membuat warna yang berbeda, keemasan dan cantik. Membuat semua laki-laki yang memperhatikanya akan suka dan kagum. Wajah cantik oriental, kulit putih dan bibir yang merah seakan mata setiap laki-laki tidak akan lepas darinya. Tapi mungkin melihat tingkah urakan dan sifat kasarnya semua predikat cantik itu akan berubah. Mereka akan takut atau bahkan lari, apa lagi gadis ini pernah menjuarai Lomba Karate dengan sabuk Hitam. Sungguh hal yang di luar dugaan melihat fisik yang manis dan cantik.
                                                                ‘*     *     *     *
Di perpustakaan ini tidak banyak  murid yang datang, hanya beberapa anak saja yang akan menghadapi ujian .Satu langkah kaki saja sudah membuat beberapa pasang mata menoleh.Apalagi dengan rambut panjang coklat yang mencolok itu. Gadis ini seakan masuk di dunia asing yang sama sekali tidak  pernah ia temui. Buku-buku yang berjajar rapi, meja  kursi yang bersekat , serta beberapa tanaman pot yang menghiasi setiap sudut jendela.
               Setiap ia berjalan ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Dengan tatapan kaget, aneh dan sinis. Mereka seakan melihat keajaiban atau mungkin hal aneh  yang membuat gadis ini menginjakkan kaki di perpustakaan.
“bukankah ia Nindi? Kenapa dia bisa masuk disini..?tanya seorang gadis kepada temannya.
“ya dia adalah gadis pembuat ulah yang sering sekali absen ke sekolah” balas temannya.
“tapi terdengar berita kalau ia hamil diluar nikah, pantas saja ia jarang mengikuti pelajaran?” salahsatu teman satu kelasnya berbicara
“apa lagi banyak gosip yang bilang ia perebut suami orang,,!”kali ini sebuah kata- kata tepat menusu hatinya.
Walau dari awal ia mulai tak perduli, kini hanya sebuah ucapan saja bisa membuat gadis ini tak bergerak kaku mematung. Tersentak dan seketika itu juga ia mulai menoleh mencari asal suara tersebut. Setelah ia menemukan siapa yang membicaraannya, ia mulai berjalan ke arah anak itu. Ada rasa takut ,ngeri bercampur gemetar mereka yang berbicara mematung terdiam. Mereka seperti membangunkan Singa yang lapar. Dengan mata yang marah ia membentak gadis yang membicarakannya tadi.
“ dengarr..!! aku tak pernah  punya masalah dengan kalian, jadi Tutup Mulut Klian,,,,!!!” katanya dengan nada marah.
Kini ia kembali terduduk manis di bawah jendela ruang perpustakaan. Dengan buku-buku tugas yang ada di depannya. Gadis itu mencoba berkosentrasi menyelesaikan soal latihan. Ada rasa enggan untuk menarik salah satu buku, di bolak baliknya kertas soal yang tertera disana.
“Bahasa Ingris...hmm.. apa yang harus aku tulis ya..?” gumamnya.
Kali ini ia tak memperhatikan sekitarnya lagi ketika seorang laki-laki tengah duduk di hadapanya. Memperhatikan tingkah lucunya, membolak-balik kertas, menggaruk-garuk kepala jika ia lupa. Atau bahkan bengong dan menggigit ujung penanya.
“himm.. gadis yang aneh..?”ucapnya dalam hati
Ia tak tau ketika gadis itu mulai tersentak dan menemukan sosok yang sering sekali ia temui.
“Kamu..?? mengapa kamu disini ?mengapa kamu di depanku..?apa yang kamu lihat..?” tanya gadis itu kaget.laki-laki yang ia bermata hitam itu terdiam.
“memangnya kenapa bukankah ini tempat umum?dan tidak jadi soalaku mau duduk di depan siapa..?” kata laki-laki itu memperlihatkan senyum termanisnya.
Huff..seketika detak jantung gadis ini berpacu dengan rona merah wajahnya. Sesegera mungkin ia memalingkan wajah ia tau ada hal yang tak biasa ia rasakan.
“Haha....hahah.... dasar gadis yang aneh aku kira kamu hanya gadis pembuat ulah di sekolah ini” kata laki-laki itu sambil memegang ujung penanya.
“aku tidak mengenalmu ?lalu mengapa kamu bisa menilaiku seperti itu, sama seperti mereka orang-orang picik yang suka menilai orang dengan gampang” kata gadis itu dengan nada kesal.
Ada rasa yang tidak laki-laki itu tau, ada hal yang tak sanggup gadis itu terima. Bukan karena ejekan atau kata-kata kasar teman-teman di sekolahnya. Tetapi karena hidupnya, hidupnya yang kini telah kacau.
“aku bukan gadis yang aneh seperti kata mereka aku hanya gadis yang  kacau, sama seperti hidupku” ungkapnya lagi.
Di palingkan wajahnya menjauh dari laki-laki itu. Sekali lagi ia menerawang jauh memandang jauh keluar. Setetes air mata jauh membasahi pipi putihnya, ada ke galauan dan rasa kecewa disana. Teringat lagi peristiwa yang baru saja ia alami.
“harusnya aku tak pantas berada di sini”katanya lagi sambil pergi meninggalkan laki-laki itu.
“tunggu..!!” laki-laki itu menarik tangannya ada rasa lain yang berbeda di sana.
“semua sudah berbeda tak seperti dulu,harusnya kau masih bisa menatap masa depanmu,dan berikan yang terbaik untuk orang yang kamu cintai..” seketika binar mata hitam laki-laki itu membuat gadis itu tak bisa bergerak. Aliran darahnya memacu dengan cepat . Detak jantung yang tak beraturan, seakan ia tau apa yang ia rasakn. Bahagia sedih bercampur, ternyata masih ada orang yang mengerti hatinya.
                                                                ‘*     *     *    
Keesokan harinya tak terlihat lagi kilauan keemasaan dari rambut yang tergerai panjang. Tak terlihat lagi letusan-letusan kecil permen karet yang dia kunyah. Dan tak ada lagi suara orang –orang yang mencemoohnya. Hanya suara desiran air hujan.Sekali lagi air hujan ini mempertemukan gadis itu kembali dengan pemilik mata hitam yang indah.
Musim Ujian telah berlalu ia mampu menyelesaikan tugas yang ia kerjakan. Ia mampu tersenyum puas kini. Ada hal yang harus ia sampaikan kepada orang yang selama ini telah membantunya dengan keras. Walaupun ada rasa takut untuk menemuinya, takut jika rasa itu hadir lagi.
“Marco aku sudah Lulus.. aku mendapatkan nilai yang memuaskan..”kata gadis itu.
“Wahh ..selamat ya,aku juga akan di pindahkan ke sekolah Negri tahun ini” sentuhan tangan itu mmebuat gadis ini terdiam.“dan maaf untuk kejadian waktu itu” kata guru ber frame biru itu dengan lembut.
“ sudah lupakan Kecupan itu,semua yang kita rasakan hanya rasa manis permen karet..” dengan suara yang semakin kecil ada getaran di sana.
Permen karet ini adalah penghilang rasa manis kecupan guru muda itu. Guru muda yang diam-diam ia cintai. Guru muda yang seperti ayahnya penuh dengan perhatian dan kasih sayang.  Setelah mengucapkan selamat tinggal ia pun berlari, tak di hiraukannya hujan membasahi tubuh nya.
“Sigure Niji..!! harusnya kau tak berada di sana!!kemarilah aku ingin memberikan mu sesuatu” teriak seorang laki-laki kepada gadis itu. Dia bukan Nindi tapi Niji .
“di sini tidak ada pelangi mengapa masih saja kau sebut ini Niji.??” Gadis itu berjalan medekatinya. Diraihnya sebuah kertas sketsa yang laki-laki itu buat untuknya.
“Shigure Niji ..Pelangi saat langit mulai cerah.. seperti kamu..semua akan indah Niji San” ucapnya,terlihat senyum yang sangat manis yang hanya ia berikan kepadanya.
Shigure Niji gadis Indo jepang yang mencoba meraih pelagi. Niji Gadis itu adalah Anugrah teridah yang pernah dimiliki Ayah dan Ibunya walau ia telah tiada.          -TAMAT-